Resources

Blue Fire Pointer

Selasa, 17 April 2012

0 Akuisisi bahasa

BAB V
PEMBAHASAN

A.    Pengertian
Psikolog dan linguis dewasa ini lebih suka menggunakan istilah akuisisi bahasa (language acquisition) daripada belajar  bahasa (language learning). Menurut Lyons (dalam Pateda, 1988:42) menyatakan bahwa penggunaan istilah akuisisi bahasa dirasakan lebih sederhana dan digunakan secara umum. Istilah akuisisi bahasa dapat ditafsirkan sebagai akuisisi atau pemerolehan suatu bahasa yang digunakan tanpa kualifikasi untuk proses yang menghasilkan pengetahuan bahasa pada penutur bahasa.
Menurut Chaer (2009:167) berpendapat bahwa pemerolehan bahasa atau akuisisi bahasa adalah proses yang berlangsung di dalam otak manusia seseorang kanak-kanak ketika dia memperoleh bahasa pertamanya atau bahasa ibunya. Pemerolehan bahasa biasanya dibedakan dari pembelajaran bahasa (language learning). Pembelajaran bahasa berkaitan dengan proses-proses yang terjadi pada waktu seseorang kanak-kanak mempelajari bahasa kedua, setelah dia memperoleh bahasa pertamanya. Jadi, pemerolehan bahasa berkenaan dengan bahasa pertama, sedangkan pembelajaran bahasa berkenaan dengan bahasa kedua.
Menurut Kiparsky (dalam Pateda, 1988:42) mengatakan bahwa pemerolehan bahasa (language Acquistion) adalah suatu proses yang dipergunakan oleh kanak-kanak untuk menyesuaikan serangkaian hipotesis yang makin bertambah rumit ataupun teori-teori terpendam yang mungkin sekali terjadi dengan ucapan-ucapan orang tuanya sampai dia memilih berdasarkan suatu ukuran penilain tata bahasa yang paling baik serta yang paling sederhana dari bahasa tersebut.

B.     Teori Akuisisi Bahasa
a.    Teori Akuisisi Bahasa yang Behavioristik
Menurut pandangan kaum behavioristik, kaum empiris, kaum mekanis, atau kaum antimentalistik berpendapat bahwa tidak ada struktur linguistik yang dibawa anak sejak lahir. Anak yang lahir dianggap kosong dari bahasa. Menurut Brown (dalam Pateda, 1988:43) mengatakan bahwa anak lahir ke dunia ini seperti kain putih tanpa catatan-catatan, lingkunganlah yang akan membentuknya beralahan-lahan dikondisi oleh lingkungan dan pengukuhan terhadap tingkah lakunya. Pengetahuan dan keterampilan berbahasa diperoleh melalui pengalaman dan proses belajar.
Kaum behavioris memusatkan perhatian pada pola tingkah laku berbahasa yang berdaya guna untuk menghasilkan respon yang benar terhadap setiap stimulus. Kemampuan berbicara dan memahami bahasa oleh anak diperoleh melalui rangsangan dari lingkungannya, baik verbal maupun nonverbal. Anak dianggap sebagai penerima pasif dari tekanan lingkungannya, tidak memiliki peranan yang aktif di dalam proses perkembangan perilaku verbalnya.
Setiap ujaran yang dihasilkan adalah suatu bentuk reaksi atau respon terhadap stimulus. Apabila respon terhadap stimulus telah disetujui kebenarannya, maka akan menjadi suatu bentuk kebiasaan. Misalnya seorang anak kecil yang mengucapkan, “ma…ma…ma”, dan tidak ada anggota keluarga yang menolak kata itu maka tuturan “ma…ma…ma” menjadi kebiasaan. Kebiasaan ini akan diulangi lagi ketika melihat sesosok tubuh yang disebut ibu yang dipanggil “ma…ma…ma”. Hal yang sama akan berlaku untuk setiap kata yang didengarnya.

b.    Teori Akuisisi Bahasa yang  Mentalistik
Kaum mentalis berpendapat bahwa setiap anak yang lahir memiliki sejumlah kapasitas atau potensi bahasa. Potensi bahasa ini akan berkembang apabila saatnya tiba. Chomsky dan Miller (dalam Chaer,2009:169) mengatakan adanya alat khusus yang dimiliki setiap kanak-kanak sejak lahir untuk dapat berbahasa yang disebut LAD (Language Acquistion Device), yang berfungsi untuk memungkinkan seorang kanak-kanak memperoleh bahasa ibunya. Cara kerja LAD ini dapat dijelaskan sebagai berikut: Apabila sejumlah ucapan yang cukup memadai dari suatu bahasa (macam-macam bahasa) diberikan kepada LAD seorang kanak-kanak sebagai masukan (input), maka LAD itu akan membentuk salah satu tata bahasa formal sebagai keluaran (output)-nya.


LAD
 


Ucapan-Ucapan Bahasa X
 

Tata Bahasa Formal Bahasa X

 
 
                                                                              
      Input                                                                                                 Output

Menurut McNell (dalam Pateda, 1988:47) menyatakan LAD terdiri dari:
1.              Kecakapan untuk membedakan bunyi bahasa dengan bunyi-bunyi yang lain.
2.             Kecakapan mengorganisasi satuan linguistik ke dalam sejumlah kelas yang akan berkembang kemudian.
3.             Pengetahuan tentang sistem bahasa yang mungkin dan yang tidak mungkin.
4.             Kecakapan menggunakan sistem bahasa yang didasarkan pada penilaian perkembangan sistem linguistik, dengan demikian dapat melahirkan sistem yang dirasakan mungkin di luar data linguistik yang ditemukan.

c.    Teori Akuisisi Bahasa yang Kognitiftik
Tahun 60-an kaum mentalis mengusulkan pendekatan baru yang dinamakan pendekatan kognitif (cognitive approach). Pendekatan kognitif yang melahirkan teori kognitif dalam psikolinguistik ini memandang bahasa lebih mendalam lagi. Bagi penganut teori ini, kaidah generative yang dikemukakan oleh kaum mentalis sangat abstrak, formal, dan eksplisit serta sangat logis. Meskipun demikian, mereka baru mengemukakan secara spesifik bentuk-bentuk bahasa dan belum menyangkut yang terdalam pada lapisan bahasa. Yakni ingatan, persepsi, pikiran, makna, dan emosi yang saling berpengaruh dalam struktur jiwa manusia. Ahli bahasa mulai melihat bahwa bahasa adalah manifestasi dari perkembangan umum yang merupakan aspek kognitif dan afektif yang menyatakan tentang dunia dan dunia diri manusia itu sendiri (Pateda,1988:49).
Istilah kognisi berkaitan dengan peristiwa mental yang terlibat dalam proses pengenalan tentang dunia, yang sedikit banyak melibatkan pikiran atau berpikir (Chaer, 2009:228). Teori kognitif menekankan hasil kerja mental, hasil pekerjaan yang nonbehavioris. Proses-proses mental tentang pengetahuan dan pengalaman dibayangkan sebagai cara yang kualitatif berbeda dari tingkah laku yang dapat diobservasi.
Titik awal teori kognitif adalah anggapan terhadap kapasitas kognitif anak dalam menemukan struktur di dalam bahasa yang ia dengar di sekelilingnya. Baik pemahaman maupun produksi serta komprehensi bahasa pada anak dipandang sebagai hasil proses kognitif yang secara terus-menerus berkembang dan berubah. Jadi, stimulus merupakan masukan bagi anak yang kemudian berproses dalam otak. Pada otak ini terjadi mekanisme internal yang diatur oleh pengatur kognitif yang kemudian keluar sebagai hasil pengolahan kognitif tadi.
C.  Proses Akuisisi Bahasa
Telah ada keyakinan di antara sesama ahli psikolinguistik bahwa akuisisi bahasa bersifat dinamis, artinya bahwa akuisisi bahasa berlangsung dari tahap satu ke tahap yang lain. Di dalam tahap perkembangan akuisisi ini terjadi: (i) perubahan-perubahan, terutama yang berhubungan dengan struktur bahasa, (ii) perkembangan ini ditentukan oleh interaksi personal, berfungsinya saraf secara baik, dan proses kognitif, (iii) bahwa dalam akuisisi bahasa terjadi proses pemilihan kata-kata dan struktur yang tidak dianalisis oleh anak, dan (iv) bahwa teori yang digunakan bersifat umum. Lain dari itu telah disepakati pula bahwa akuisisi bahasa dipengaruhi oleh penggunaan bahasa sekitar. Dengan kata lain, akuisisi bahasa bergantung pada lingkungan anak (Lowenthal dalam Pateda, 1988:51). Proses pemahaman melibatkan kemampuan mengamati atau mempersepsi kalimat-kalimat yang didengar. Sedangkan penerbitan melibatkan kemampuan mengeluarkan kalimat-kalimat.
Ada dua proses yang terjadi ketika seseorang kanak-kanak memperoleh bahasa pertamanya, yaitu proses kompetensi dan performansi (Chaer, 2009:167). Kompetensi adalah proses penguasaan tata bahasa yang berlangsung secara tidak disadari. Kompetensi merupakan syarat untuk terjadinya proses performansi yang terdiri dari dua buah proses, yakni proses pemahaman dan penerbitan atau menghasilkan kalimat-kalimat
Mowrer (dalam Pateda, 1988:52) berpendapat bahwa anak membentuk kata dan kalimat yang dibutuhkannya karena ada stimulus. Stimulus yang diterimanya tentu bersifat global pada tahap awal, kemudian lama-lama memperlihatkan perbedaan dalam urutan pengalamannya. Anak mengumpulkan sebanyak mungkin pengetahuannya yang bersifat nonlinguistik melalui lingkungannya. Informasi itu dikumpulkan melalui penglihatan, pendengaran, pembauan, pengecapan, dan penyentuhan yang kemudian dimanipulasikannya dalam wujud bunyi bahasa.

D.  Perkembangan Akuisisi Bahasa
Setiap anak tidak dengan sendirinya mengakuisisi bahasa. Akuisisi bahasa berkembang melalui fase-fase tertentu. Kriteria yang digunakan adalah gejala yang terlihat dan perkembangan itu sendiri.
Perkembangan akuisisi atau pemerolehan bahasa berhubungan dengan kematangan neuromuskularnya yang kemudian dipengaruhi oleh stimulus yang diperolehnya setiap hari. Pada tahap awal tidak ada kontrol terhadap pola tingkah lakunya termasuk tingkah laku berbahasa. Vokal anak dan otot-otot bicaranya bergerak secara refleks. Pada bulan-bulan pertama otaknya berkembang dan mengatur mekanisme saraf sehingga dengan demikian gerakan refleks tadi sudah dapat dikontrol. Refleks itu berhubungan dengan gerakan lidah atau mulut. Misalnya anak akan mengedipkan mata kalau cahaya berubah-ubah atau bibirnya akan bergerak-gerak apabila ada sesuatu yang disentuhkan di bibirnya. Sehingga dapat dikatakan bahwa perkembangan akuisisi bahasa yaitu menekankan pada segi pemerolehan bahasa yang biasanya ditandai oleh awal kelahiran seorang bayi.  
E.   Aspek-aspek Perkembangan Bahasa
Mengawali uraian ini, ada baiknya kita bedakan akuisisi bahasa atau  perkembangan akuisisi bahasa dengan aspek perkembangan bahasa. Kalau perkembangan akuisisi bahasa menekankan pada segi pemerolehan bahasa yang biasanya ditandai oleh awal kelahiran seorang bayi. Sedangkan aspek perkembangan bahasa mempersoalkan bagaimana perkembangan bahasa yang telah diperoleh (diakuisisi) itu, baik yang berhubungan dengan fonologi, morfologi, sintaksis, maupun semantik.
Berikut ini adalah stadia akuisisi bahasa yang langsung berkaitan dengan performansi linguistik (linguistic performance) yang dikemukakan oleh Atchison dan Crutterden (Hartley dalam Pateda,1988:59):
Umur                Performansi linguistic
 0.3                     Mulai Meraban
 0.9                    Pola intonasi telah kedengaran
 1.0                     Kalimat satu kata (holophrases)
 1.3                     Lapar kata (lexical overgeneralization)
 1.8                     Ujaran dua kata
 2.0                     Infleksi, kalimat tiga kata (telegraphic)
 2.3                     Mulai menggunakan kata ganti
 2.6                    Kalimat tanya, negasi, kalimat empat kata, dan pelafalan vocal telah          sempurna
 3.6                     Pelafalan konsonan telah sempurna
 4.0                     Kalimat sederhana yang tepat tetapi masih terbatas
 5.0                     Konstruksi morfologis, sintaksis telah sempurna
 10.0                   Matang berbicara

0 komentar:

Poskan Komentar

Recent Comment